2.1.3.
Indeks Parameter
Indeks parameter atau indices
adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan kedudukan dari bidang pada suatu
muka kristal. Indices ini dinyatakan dalam bentuk tulisan angka yang
berurutan yang mewakili kedudukan dari penjabaran harga parameter.
Parameter merupakan perbandingan
yang bagian panjang antara sumbu-sumbu simetri umum kristalnya terpotong oleh
perpanjangan muka kristal tersebut.
a.
Sejajar terhadap dua sumbu yang terpotong sumbu lain.
b. Sejajar
terhadap dua sumbu dan memotong pada sumbu lainnya.
c.
Memotong terhadap ketiga sumbu kristal tersebut.
Penulisan indices bidang ini
adalah penulisan Miller, walaupun suat cara penulisan lain juga ada dirancang
para ahli, namun yang paling sering digunakan adalah dengan cara penulisan
Miller.
Cara-cara penulisan indices
bidang muka kristal dapat kita bedakan menjadi 2 cara, yaitu :
a. Indices
Weiss
Dalam menyatakan indeks atau indices dari bidang
kristal, Weiss menggunakan dasar pada
parameter dari muka Kristal yang memiliki panjang pemotongan secara sebenarnya
terhadap suatu sumbu simetri utama sehingga muka bidang tak memotong sumbu.
b. Indices
Miller
Dalam menyatakan indeks atau
indices dari bidang muka kristal, Miller telah berusaha menghilangkan
notasi tak terhingga pada bagian parameter pemotongan yang sejajar akan sumbu
dengan cara membalik proposi perpotongannya, yaitu dengan menempatkan pembilang
menjadi penyebut dan juga sebaliknya, selanjutnya bila sebelumnya terbentuk
angka pecahan, Maka akan berubah menjadi angka yang bentuknya bulat.
Pada dasarnya, indeks Miller dan Weiss tidak
jauh berbeda. Karena apa yang dijelaskan dan cara penjelasannya sama, yaitu
tentang perpotongan sisi atau bidang dengan sumbu simetri kristal. Yang berbeda
hanyalah pada penentuan nilai indeks. Bila pada Miller nilai perpotongan yang
telah didapat sebelumnya dijadikan penyebut, dengan dengan nilai pembilang sama
dengan satu. Maka pada indeks Weiss nilai perpotongan tersebut menjadi
pembilang dengan nilai penyebut sama dengan satu. Untuk indeks Weiss,
memungkinkan untuk mendapat nilai indeks tidak terbatas, yaitu jika sisi atau
bidang tidak memotong sumbu (nilai perpotongan sumbu sama dengan nol).
(Anonim, 2012)
2.1.4. Axial Ratio
Axial ratio merupakan
perbandingan dari panjang sumbu-sumbu kristal yang mempunyai sumbu a, b, dan c.
Sebagai penentuan di dalam suatu unsur dari sistem kristal. Sistem susunan sumbu
pada kristalografi mempunyai suatu pertimbangan dan perimbangan tersebut
mempunyai batas yang lazim disebut dengan batas sumbu (axial ratio). Axial ratio sangat menentukan dalam penentuan
sistem kristal.
Adapun sistem kristal dikelompokkan ke dalam tujuh sistem, hal tersebut
dinyatakan pada :
a. Perbandingan panjang sumbu-sumbu simetri
b. Letak atau posisi kristal.
c. Jumlah sumbu kristal dan nilai dari sumbu
c.
Pada sistem kubik mempunyai tiga sumbu yang sama panjang, axial ratio
pada sistem tersebut yang dapat dituliskan a : a : a atau 1 : 1 : 1. Sistem hexagonal
dan tetragonal mempunyai sumbu di mana sumbu yang vertikal berbeda
dengan sumbu yang horizontal dan sumbu yang horizontal sama hexagonal dan
tetragonal mempunyai sumbu di mana sumbu yang vertikal dengan sumbu yang
horizontal dan sumbu di horizontal sama panjang.
Susunan sumbu
pada kristalografi dikenal ada enam sistem, yaitu :
a. Sistem Kubik
Sistem ini susunan sumbunya terdiri
dari tiga sumbu yang mempunyai panjang sama dan ketiga sumbu saling
tegak lurus, dan umumnya ditulis yang dengan a, a, a. Ketentuan sistem kubik, yaitu :
1)
Sumbu
a = b = c
2)
Sudut
α = β = γ = 900
3)
Karena
sumbu a = b = c disebut juga sebagai a.
b. Sistem Tetragonal
Terdiri dari tiga sumbu di mana dua sumbu dengan panjang yang sama dan
saling tegak lurus satu terhadap yang lain, sedang sumbu ketiga atau sumbu c
tegak lurus terhadap kedua sumbunya dengan panjang yang berbeda.
Terdiri dari tiga sumbu di mana dua sumbu dengan panjang yang sama dan
saling tegak lurus satu terhadap yang lain, sedangkan sumbu ketiga atau sumbu c
tegak lurus terhadap kedua sumbunya dengan panjang yang berbeda dengan kedua sumbunya.
Ketentuan pada sistem tetragonal, yaitu :
1)
Sumbu
a = b ≠ c
2)
Sudut
α = β = γ = 900
Karena sumbu a = sumbu b disebut juga sumbu a. Sumbu c bisa lebih panjang
atau lebih pendek dari sumbu a atau b. Sumbu c lebih panjang dari sumbu a dan
sumbu b disebut columnar (panjang).
Sumbu c lebih pendek dari sumbu a dan sumbu b disebut bentuk stout (gemuk).
c. Sistem Hexagonal
Terdiri dari empat sumbu di mana tiga sumbu
mempunyai 600 terletak pada satu bidang datar, sedang sumbu keempat
sebagai sumbu vertikal dan tegak lurus terhadap ketiga sumbu yang lain dengan panjang
yang berbeda. Sumbu keempat yang sering disebut sumbu c.
Ketentuan
ada sistem hexagonal, yaitu :
1) Ada
4 sumbu yaitu a, b, c, d.
2) Sumbu
a = b = d ≠ c
3) Sudut
β1 = β2 = β3 = 900
4) γ1
= γ2 = γ 2= 1200
5) Sumbu
a, b, dan d sama panjang disebut juga sumbu a.
6)
Sumbu
a, b, dan d terletak dalam bidang horizontal dan membentuk sudut 600.
7) Sumbu c dapat lebih panjang atau lebih
pendek dari sumbu a.
d. Sistem Monoklin
Terdiri dari tiga sumbu dengan panjang yang berlainan, sumbu a dan c saling
menyudut, sumbu b tegak lurus dengan kedua sumbunya.
Ketentuan pada sistem monoklin, yaitu :
1)
Sumbu a ≠ b ≠ c
2)
Sudut α = γ = 900, β ≠ 900
e. Sistem Ortorombik
Terdiri dari tiga sumbu dengan panjang yang
berlainan, tetapi sumbu dengan panjang yang berlainan, tetapi sumbu tersebut
saling ada tegak lurus. Pada umumnya ditulis a, b, c.
Ketentuan pada sistem ortorombik, yaitu :
1) Sumbu
a ≠ b ≠ c
2) Sudut
α = β = γ = 900
3) Sumbu
c adalah sumbu terpanjang.
4) Sumbu
a adalah sumbu terpendek.
f. Sistem Triklin
Sistem triklin
terdiri dari tiga sumbu di mana ketiga sumbunya dengan panjang yang berbeda dan
sumbunya satu terhadap yang lain tidak tegak lurus. Sistem susunan sumbu pada kristal yang dapat
menunjukkan adanya elemen-elemen simetri dan bentuk-bentuk yang sederhana.
Ketentuan pada sistem triklin, yaitu :
1)
Sumbu
a ≠ b ≠ c
2)
Sudut
α ≠ β ≠ γ ≠ 900
3) Semua sumbu a, b, c saling berpotongan dan
membentuk sudut miring tidak sama besar.
Axial ratio sangat menentukan
dalam penentuan kristal ke
dalam sistem kristalnya. Axial
ratio merupakan
perbandingan antara beberapa sumbu utama (sumbu a, sumbu b, sumbu c dan sumbu
d) sebagai unsur penentu
dalam penentuan sistem kristal.
(Anonim, 2012)
2.1.5. Proyeksi Kristalografi
a. Prinsip
Kristalografi
Prinsip dari proyeksi kristalografi
ini adalah penggambaran kembali setiap bidang-bidang Kristal menjadi suatu
posisi atau titik dengan cara menentukan posisi bidang menarik suatu garis
tegak lurus atau garis normal dari suatu pusat kristal ke bidang muka
kristalnya. Kemudian garis ini memotong bidang dari proyeksi yang ditentukan pada
pusat bola.
Dalam kristalografi dan juga di
dalam ilmu lain, kita telah mengenal
suatu masalah untuk mengamati suatu objek dalam bentuk tiga dimensi dan
penggambaran dua dimensi, para ahli kristalografi menggunakan berbagai cara
proyeksi di antaranya:
1) Proyeksi bola (proyeksi
spercial)
2) Proyeksi
stereografi
3) Proyeksi
gnomonik
4) Proyeksi
ortografi
Penggambaran proyeksi di atas bertujuan untuk menunjukan bentuk
dan disertai ukuran yang relatif bidang muka kristal, dimana penggambaran
titik-titik dan garis-garis tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk yang disebut
sebagai kutub. Kemudian hubungan antar titik dengan titik yang lain adalah hubungan angular.
Hubungan angular antara titik ini diperoleh
melalui cara menentukan proyeksi dari
penempatan pada posisi muka kristal sebagai titik-titik pada bidang rupa titik ini adalah dengan menarik garis normal dari pusat kristal terhadap biang muka kristal sehingga
memotong bidang proyeksi, dalam hal ini bidang di tempatkan di pusat dari suatu
bola.
b. Proyeksi spercial
Pada proyeksi spercial,
yaitu proyeksi itu menyerupai bola, yang merupakan proyeksi melalui pusat normal yang ditarik dari pusat
bola ke luar atau ke dalam bidng-bidang kristal serta diteruskan sampai
memotong bidang proyeksi atau bidang bola, maka bola pada titik inilah titik
perpotongannya disebut kutub. Bola yang terdapat pada kutub tersebut merupakan
suatu proyeksi dibidang muka kristal tersebut.
Hasil proyeksi daripada bidang bola
ternyata telah memiliki kekurangan. Kekurangan itu adalah masih kurang
sederhana karena pada proyeksi dua dimensi ini masih terletak pada bidang yang
berupa bola yang merupakan bangun tiga dimensi dibentuk oleh panjang, lebar dan
luas.
Dari gambar suatu proyeksi spercial
dapat diperhatikan bahwa kristal tersebut diletakan didalam pusat bola.
Sedangkan bidang bola adalah bidang proyeksinya.
Titik perpotongan ini dapat pula
disebut dan dinyatakan sebagai kutub. Titiknya perpotongan itu dianggap
mewakili bidang kristal yang mempunyai indices tertentu.
c. Proyeksi Stereografi
Proyeksi stereografi adalah salah
satu dari proyeksi yang sering digunakan oleh para ahli dibidang kristalografi.
Proyeksi yang sering para ahli-ahli krstalografi digunakan itu antara lain
adalah:
1) Proyeksi stereografi
2) Proyeksi gnomonik
3) Proyeksi ortografi
Proyeksi stereografi pada bidang ini
ialah bidang equator bola, dimana kristal yang tetap berada pada pusat bola.
Garis normal yang dapat ditarik berpotongan pada bidang bola kemudian
dihubungkan pada titik-titik kutub di selatan. Garis yang ditarik dari kutub
selatan akan selalu memotong bidang equator yang ini merupakan bidang proyeksi.
Dengan demikian titik potong tersebut dianggap sebagai titik proyeksi.
Dalam praktikum ini, penggambaran
proyeksi dari kristal secara umum dikenal sebagai suatu proyeksi dengan
menyajikan kembali gambar kristalnya dari bentuk tiga dimensi menjadi dua saja
pada sebuah bidang datar yang berada ditengah permukaan dari suatu proyeksi
bola. Pada bidang proyesi memotong tepat dibagian tengahnya bola sebagai bidang
equator dan yang terpotong berada dipermukaan bola akan mengahasilkan itu
lingkaran dari primitive proyeksi.
Cara memproyeksikan dilakukan dengan
suatu cara yaitu menarik garis lurus dari titik muka kutub sebagai titik
proyeksi bola ke titik yang dilihat atau penglihatannya zenit. Perpotongan dengan bidang proyeksi akan
membentuk proyeksi stereografi dari bidang muka dan bidang depannya.
Dari titik atau bidang muka pada lingkaran primitive menggambarkan
proyeksi dari titik itu. Hasil pemproyeksian stereografi pada suatu bidang
yang didalamnya memuat titik proyeksi didalam stereografi pada suatu bidang
didalamnya memuat titik proyeksi muka yang juga memuat dan menyatakan sumbu simbol sesuai dengan nilai
disumbu simetri serta kemungkinan terdapatnya dan diperolehnya bidang simetri
yang dinamakan dari stereografi.
Dengan demikian stereografi dapat menolong para
praktikan dalam pengelompokkan kelas dari kristal, baik melalui analisa dari
simetri dan herman mauguin yang juga diidentifkasikan menurut isi simetrinya.
(Anonim, 2012)